Mengenal ProfesiĀ Criminal Profiler

dunialain.xyz – Sebagian orang kemungkinan familiar dengan serial televisi Amerika Criminal Minds atau drama Korea Signal dan Through The Darkness. Ketiga serial ini sama-sama menggambarkan perihal sebuah tim di kepolisian yang spesifik bertugas menginvestigasi dan mengidentifikasi tersangka dengan jalankan sejumlah analisis.
Adapun orang-orang yang bekerja di dalam tim itu disebut sebagai criminal profiler atau penyusun profil kriminal, yang menganalisis perilaku kejahatan.
Untuk mengenali tugas criminal profiler, alangkah baiknya untuk mengetahui dulu perihal criminal profiling. FBI mendeskripsikan proses criminal profiling sebagai tehnik untuk mengidentifikasikan pelaku kejahatan atau kekerasan dengan menganalisis kepribadian dan karakteristik perilaku berdasarkan kesimpulan kejahatan yang dilakukan.
Jadi, proses criminal profiling ini tidak cuma sekadar menghimpun fakta dan information untuk mendapatkan tersangka pelaku kejahatan, tetapi termasuk menganalisis dari sudut pandang dan perilaku mereka untuk menahan pelaku dengan kejahatan serupa berlangsung di kemudian hari. Criminal profiling merupakan tekun pengetahuan yang mengkombinasikan psikologi dan hukum.
Criminal profiling ini bermula awal 1880-an, kala dua orang dokter bernama George Philips dan Thomas Bond mengupayakan menyelidiki TKP dan menganalisis kepribadian untuk mengetahui dan menangkap pembunuh berantai Jack The Ripper. Lalu, titik terang profiling terlihat kala persoalan bom berantai 16 th. berturut-turut sukses dipecahkan setelah psikiater James Brussel mempelajari catatan TKP pengeboman. Berdasarkan pengamatannya itu, para polisi sukses menangkap George Metesky pada th. 1957.
Profesi dari proses criminal profiling ini disebut profiler. Mereka menguraikan perilaku, emosi, situasi kejiwaan, kepribadian, hingga ketertarikan tersangka, dalam investigasi. Dilansir dari YouTube Wired, mantan kesimpulan perilaku dan profiler kriminal FBI Jim Clemente mengatakan bahwa criminal profiler di FBI menolong tim forensik kala mereka mengalami kebuntuan.
Dengan mengacu pada sudut pandang pelaku kejahatan, maka bakal menuntun profiler pada alasan mengapa kejahatan selanjutnya dilakukan dan siapa yang berpotensi melakukannya. Untuk memperoleh informasi ini, maka profiler perlu berjumpa dengan bermacam tersangka kejahatan dan mewawancarai mereka secara intens demi memperoleh uraian yang akurat perihal cara mereka jalankan kejahatan tersebut.
Seorang profiler kriminal tidak boleh membebaskan sedikit pun detil kecil yang mereka dapatkan dari TKP maupun data-data yang sukses dikumpulkan. Karena itulah, profiler perlu teliti, kritis, pantang menyerah, dan tenang di bermacam situasi, termasuk kala menghadapi para kriminal.
Di Indonesia sendiri, profesi profiler kriminal sendiri belum benar-benar dikenal. Tapi lebih dari satu kali pendapat psikolog digunakan dalam menganalisis persoalan mutilasi Ryan pada th. 2008 dan persoalan pembunuhan Ade Sara pada 2014. Untuk menjadi seorang profiler kriminal, gelar yang diperlukan adalah sarjana psikologi.
Selain itu, masih diharuskan untuk lanjut ke S2 di jurusan psikologi profesi atau psikologi forensik. Dua jurusan selanjutnya dapat ditemukan di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Lamanya pas bertekun sekolah psikologi forensik yang diperlukan lebih kurang 7-11 th. untuk memperoleh lisensi.